Melibatkan Janis di Rumah

Menyambung dari tulisan saya sebelumnya, ternyata ada solusi bagi kami dalam menghadapi Janis. 

Seperti yang pernah saya bilang, karena di sini kami tidak punya ART, maka segala kegiatan rumah tangga, kami sendiri yang mengerjakan. Dan ketika Janis tidak sabar ingin cepat main dengan kami, dan begitu pula kami yang tidak sabar ingin membereskan rumah, akhirnya kami sampai pada kesepakatan untuk melibatkan Janis di setiap kegiatan pekerjaan rumah. 

Perlu digaris bawahi, ini bukan eksploitasi anak ya. Kami ingin Janis mengerti bahwa ada rutinitas lain yang harus kami lakukan, selain bermain dengan Janis dan mengasuhnya. 

Ide ini berawal ketika kami melihat Janis mau membantu kami untuk merapikan buku-bukunya yang sudah selesai dibaca. Hanya dengan kalimat, “Hayooo, bukunya kalau sudah selesai dibaca harus dirapikan lagi ke tempatnya,” maka ia segera beranjak membantu merapikan. Sampai sekarang, Janis mau belajar mengembalikan merapikan buku-bukunya sendiri, walau ala kadarnya, yang penting tepat ditaruh di tempatnya semula. 

Kemudian, menaruh pakaian kotor di keranjang cucian. Sebetulnya ini salah satu hal yang Janis lihat setiap harinya. Ketika akan mandi, pakaiannya yang sudah dilepas, terlebih dahulu kami taruh di keranjang. Rupanya, ia mencontoh. Sudah hampir dua minggu, ia menaruh pakaian kotornya sendiri, tanpa diminta. Setelahnya, ia tepuk tangan, sambil memanggil kami. Mungkin saja Janis merasa bangga karena ia bisa melakukan sendiri ya, hihi. Yah, karena ini terbilang baru untuk Janis, tak jarang pula ia memasukkan pakaian bersih ke dalam keranjang cucian… 

Ketika Janis sudah selesai makan, saya akan minta bantuannya, untuk menaruh alat makannya sendiri ke dalam sinky. Bagaimana bisa? Apa Janis sudah setinggi itu? Hihihi, belum kok. Tentunya dengan bantuan kami. Saya atau suami akan menuntunnya ke dapur, sambil ia membawa alat makannya. Ketika sudah di depan sinky, maka alat makannya tersebut diberikan ke kami, untuk ditaruh di dalamnya. “Terima kasih, mbak Janis…” Senyumnya kembali merekah, tentunya sambil tepuk tangan. 

Janis juga berbaik hati membawakan pengki untuk saya, ketika sedang menyapu. Atau membantu membawakan pakaian yang sudah kering ke dalam kamar, untuk dilipat. Tentunya Janis hanya membawa pakaiannya sendiri lho ya. Kalaupun ia masih ingin membantu, biasanya saya hanya beri salah satu kaus kami saja untuk dibawa. 

Janis juga mulai membuang tisu yang sudah ia pakai ke dalam tempat sampah. Walaupun masih suka terbalik dibuang ke dalam keranjang cucian, hihi. 

Rupanya cara-cara seperti ini membantu kami semua, walaupun tidak selalu berhasil juga. Paling tidak, Janis merasa diperhatikan. Karena memang yang diinginkan ya hanya diajak main, main dan main. Sesekali Janis merengek kalau memang sudah bosan, capek atau mengantuk. 

Semoga selanjutnya kami bisa lebih baik lagi dan tentunya lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik Janis. 

Apakah kalian juga ada yang seperti kami? Atau ada tips yang lain? Feel free to share 🙂

Melibatkan Janis di Rumah

Belajar dari Janis

Pernah tidak, marah atau kesal dengan anak, ketika kita sedang sibuk berkutat di dapur atau sedang beberes rumah? 

Saya beberapa kali begitu dengan Janis. Lebih tepatnya, sering. 

Saya kesal ketika rumah sedang dibersihkan, lalu semua mainannya ia taruh di semua sudut rumah. Atau ketika sedang menyapu, debu kotornya ia injak-injak, sehingga jadi menyebar. 

Saya kesal ketika sedang mencuci piring, ia merengek dan tak sabar minta digendong, padahal tangan saya masih penuh busa sabun. 

Saya kesal ketika saya pergi mandi, ia menangis kecarian, padahal sebelumnya saya sudah pamit, dan pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka. Bahkan ketika saya ingin rebahan sebentar saja, ia pun mencari cara untuk mengajak saya beranjak.

Bagi saya, tinggal diam di rumah jauh lebih melelahkan, dibandingkan harus pergi main ke taman atau perpustakaan. Karena ada saja yang harus dikerjakan di rumah, selain mengasuh Janis tentunya. Di usianya yang 22 bulan ini, energinya luar biasa. Bicara non-stop (dalam bahasa yang ia pahami sendiri), jalan sana-sini, naik-turun sofa, bahkan lari-lari di dalam rumah. 

Bahkan ada kalanya saya merasa merdeka sekali ketika Janis tidur dan istirahat. Begitu saja berulang kali. Lalu apa yang saya lakukan? Duduk di sofa, sambil minum teh, kemudian mengingat hectic sebelumnya dan menghela nafas panjang, sampai kadang senyum-senyum sendiri. Atau kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang belum selesai. 

Suatu ketika, saya pernah kelepasan membentak Janis. Wajahnya pias seketika, ia berlari keluar kamar, mengintip dari balik pintu, dan disitu saya lihat ia berusaha menahan tangis. Saya tidak berusaha mengejarnya ataupun memanggilnya, karena masih dalam keadaan emosi. Saya diamkan Janis sekitar 10-15 menit. Tahu apa yang dilakukannya? Ia kembali mendekati saya, dan memanggil, “Mama, Mama…” berulang kali. Diciumnya pipi saya berulang kali. Karena masih tidak ada respon dari saya, barulah ia menangis sejadi-jadinya. 

Ketika saya memeluknya, ia balik memeluk saya sekencang mungkin. Saya bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali tenang. Senyumnya juga mulai merekah. Ia kembali ceriwis lagi, sembari menyodorkan saya sebuah buku untuk dibaca bersama. Berikutnya, gantian saya yang menangis… Ya Tuhan, I did stupid things! 

Mengapa malah Janis yang mengajarkan saya untuk belajar tulus, bukan sebaliknya? Saya pun merasa malu dan kecewa, karena merasa kurang tulus terhadap Janis. 

Saya ingat, saya pernah beberapa kali mengeluh capek ke Janis. Hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Padahal ia hanya ingin ditemani dan diajak berinteraksi.

Saya ingat, betapa sabarnya Janis, ketika harus menunggu saya menyelesaikan cucian panci dan alat masak lainnya, yang sudah menumpuk sejak pagi. Atau ketika sedang memasak untuk menu makan siangnya. Ia tetap sabar menunggu saya, dan tepat berada di samping saya sambil membawa salah satu bukunya. Ketika saya sedang membersihkan karpet, ia juga tetap sabar menunggu saya sampai selesai.

Janis yang mengajarkan saya untuk belajar sabar, bukan malah sebaliknya…

Saya pun ingat dengan kata-kata suami beberapa hari lalu. Janis masih terlalu kecil untuk memahami apa yang kita katakan. “Apalagi kalau Mama marahi… Seberapa besar Mama marah, ia belum ngerti, bahkan mungkin nggak paham juga kenapa Mama marah. Yang Janis tangkap hanya intonasinya Mama yang keras.” 

“Kadang aku juga suka kesal dengan Janis… Tapi aku berusaha untuk nggak membentak atau marah. Kalau sekali-dua kali nggak bisa dibilangi, barulah aku ambil Janis dari posisi dia berada. Gendong saja, Ma…” 

“Nanti kalau sudah makin besar, pelan-pelan bisa dikasih tahu, Ma. Sabar ya…”

Menyesal? Ya, tentu saja. Kadang kalau tengah malam terbangun, saya suka menangisi Janis. Bisa nggak ya, saya jadi orang tua yang baik buat Janis? But there’s no such thing as perfect parent. Semua belajar, termasuk saya. Kadang memang harus jatuh dulu, untuk menjadi yang lebih baik.

Komentar-komentar seperti, “Wah, hebat! Ibu teladan ini…” atau “Kamu telaten banget, Lintang”, malah membuat saya malu dan merasa bersalah.

Saya sangatlah jauh dari itu. Mungkin semuanya karena kuasa Yang Di Atas sehingga segala kekurangan saya tidak diperlihatkan ke orang lain ya. Lalu bukankah dengan adanya tulisan ini, jadi kelihatan kurangnya? Betul, tapi saya nggak malu untuk mengakuinya. Inilah saya apa adanya.

Segala buku parenting yang saya baca sangat bagus. Tapi pada kenyataannya sulit sekali untuk dilakukan. Ada beberapa poin yang bisa diterapkan, ada juga yang berseberangan. Semuanya kembali ke kondisi anak dan diri kita sendiri sebagai orang tua. Seperti yang suami saya bilang, “Nggak perlu lihat orang lain, Ma, just be yourself… Kita yang tahu kondisi anak kita. Semua ada porsinya masing-masing.”

Semoga segala tekad dan usaha saya menjadi yang terbaik untuk Janis terwujud ya.

Belajar dari Janis

Tentang Tempat Baru

Halo! Sudah hampir sebulan keluarga kami pindah ke Singapura, dikarenakan suami mendapat pekerjaan baru di sini. Kami memulai hidup baru di tempat yang baru.

Di Singapura, kami menyewa sebuah apartemen sederhana di daerah Marine Parade. Oh, dan tanpa lift. Daaan, kamar kami terletak di lantai 4. Surprise! Hahaha… 

Percaya atau tidak, sebulan sebelum pindah, saya selalu uring-uringan karena nggak terbayang naik-turun ke lantai 4, sambil menggendong Janis, bawa stroller, bawa belanjaan, dan lain-lainnya. Ah, terlalu berlebihan ya…

Singkat cerita, tempat ini kami pilih karena sesuai budget, lokasi yang baik dan penawaran yang bagus dari pemilik. 

Di sini kami (mungkin lebih tepatnya ‘saya’) dituntut mandiri, terlepas dari fasilitas umum yang baik. Untuk belanja kebutuhan rumah tangga, saya harus keluar sendiri dan membawa trolley. Jika barang yang dibeli sangat banyak, kami menggunakan jasa kurir. Lalu, apakah mereka mau mengantar sampai ke lantai 4? Tentu saja, dengan biaya sekitar S$10 per lantai (untuk barang belanjaan dengan berat tertentu). Say whaaat??!

Lalu kalau belanja sendiri, Janis bagaimana? Tentu saja saya gendong pakai baby carrier. Karena saya sudah membawa trolley, jadi rasanya tidak mungkin juga membawa stroller. Pernah suatu kali saat belanja, saya bertekad tidak pakai trolley. Wah, ternyata repot juga, dan rasanya berat sekali, mengingat harus ke lantai 4. Duh.

Lalu, bagaimana dengan stroller? Nah, sebelumnya saya hanya menggunakan stroller jika ada suami. Mengapa demikian? Karena stroller Janis beratnya hampir 11 kg. Saya merasa nggak sanggup jika harus naik-turun sambil menggendong Janis dan membawa stroller. Sekali waktu, leher saya kaku dan pundak kanan bengkak, karena terlalu lama menggendong Janis yang mulai kurang nyaman berlama-lama di baby carrier. Akhirnya mau tidak mau (sanggup tidak sanggup), selama beberapa hari ini saya mengandalkan stroller. Lebih tepatnya selama dua hari ini. 

Saya pun sempat khawatir, bisa nggak ya, saya pergi berdua Janis dengan stroller saja, tanpa baby carrier dan tanpa bantuan (angkut) dari suami. Ternyata saya bisa, walaupun masih kewalahan. Yay! 

Di luar itu semua, ada banyak hal yang membuat saya terharu. Salah satunya, ada saja penumpang yang membantu kami membawakan stroller yang beratnya luar biasa saat naik-turun bis. Bahkan tak jarang saat antri di kasir, kami dipersilakan duluan. Rezeki! 🙂

Lalu, bagaimana dengan makanan sehari-hari? Kebetulan kami di sini berlangganan catering, yang tentunya halal dan tanpa MSG. Lalu bagimana dengan Janis? Karena putri kami sudah bisa makan masakan rumahan, jadi ia pun ikut makan masakan catering. Sesekali saya juga memasak untuk Janis. Oh iya, cateringnya hanya saat hari kerja. Jadi akhir minggu kami makan/beli lauk di luar sembari main, atau duduk di Jamaica Blue favorit kami.

Sejauh ini saya (kami) senang tinggal di sini. Seminggu pertama memang masa adaptasi untuk kami semua. Bahkan selama seminggu itu pula Janis sama sekali tidak mau makan, dan keliling ruangan dengan tatapan bingung, hihihi.

Baiklah, sekian dari saya. Semoga kami selalu sehat, makin berkah, makin bahagia, begitu juga dengan kalian ya, aamiin. 🙂

Tentang Tempat Baru

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Begitu dinyatakan hamil oleh dokter, saya langsung memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Saya berhenti untuk menjadi dokter gigi. Sebagian besar orang menyayangkan hal tersebut. Tapi saya lebih sayang dengan anak yang ada didalam kandungan saya. Saya ingin merawatnya sendiri. Tentunya keputusan ini didukung penuh oleh suami dan orang tua. 

Lalu apa yang saya lakukan ketika sudah menjadi ibu rumah tangga? 

Saya mengurus dan merawat keluarga kecil saya, suami dan Janis. Saya mengurus pekerjaan rumah, walaupun sudah ada mbak yang membantu beberes. Saya juga memasak walau tidak setiap hari (kecuali untuk Janis). Saya juga tak lupa melakukan groceries shopping setiap bulannya. Saya juga mencuci pakaian. 

Apa yang terlewat oleh saya? 

Saya terlalu serius dengan ini semua, sampai kadang merasa stres. Saya berharap semuanya berjalan sempurna, tetapi ternyata ada beberapa kendala. Tak jarang saya mengeluh capek, padahal itu sudah resikonya. Sampai di titik ini, saya merasa kurang bersyukur. 

Saya masih suka ngambek dengan suami, kalau apa yang dilakukannya (dalam membantu mengurus Janis dan rumah) tidak sesuai dengan apa yang biasa saya lakukan. Padahal suami saya adalah orang nomor satu yang senantiasa mendukung, menemani dan membantu saya dalam keadaan apapun.

Saya masih suka kesal kalau Janis tidak mau makan. Padahal di luar itu, ia sudah bolak-balik minum ASI dan ngemil, sehingga mungkin sudah cukup kenyang. Saya pun lupa kalau kebutuhannya bukan hanya ASI-makan-tidur, tetapi juga ingin selalu ditemani dan diajak bermain.

Saya seringkali terlalu ambil pusing dengan omongan orang-orang. 

Saya pun kadang lupa, bahwa ada banyak dukungan dari keluarga besar kami. 

Saya masih jauh dari sempurna dan masih kurang bersyukur…

Saya tidak berpikir bahwa hidup saya lebih sulit, karena ada banyak berkah yang harus lebih saya syukuri. Inilah pilihan saya, menjadi ibu rumah tangga. Inilah keinginan saya, walau kadang terasa sulit. Mimpi yang besar memang butuh pengorbanan, kan? Semuanya patut diperjuangkan. 

Saya ingin menjadi istri yang baik untuk suami saya. Saya ingin menjadi ibu dan contoh yang baik untuk putri saya. Saya juga ingin menjadi yang baik untuk kedua orang tua dan adik-adik kami. Maka dari itu, saya harus belajar lebih banyak lagi.

Happy wife means happy family. 🙂

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Tentang Belanja Bulanan dengan Janis

Saya paling suka belanja keperluan bulanan. Biasanya saya akan pergi pada saat weekday untuk menghindari keramaian.

Begitu Janistra lahir, semuanya berubah. Seringkali saya minta bantuan suami atau adik untuk membelanjakan semuanya, karena saya masih adaptasi dengan keadaan yang baru.

Saat Janis menginjak usia 6 bulan, barulah saya mengajaknya untuk ikut berbelanja bulanan. Sebetulnya suami meminta saya untuk menunggu sampai weekend tiba, supaya bisa membantu dan menemani. Tapi saya sudah tidak sabar dan ingin mencoba melakukannya berdua dengan Janis. Paling tidak, cukup sekali saja. Saya pikir, ini akan jadi pengalaman luar biasa bagi saya. Dan benar saja, pengalaman pertama ini terbilang sukses!

Saya dan Janis pergi berbelanja setelah Janis bangun tidur pagi kedua, yaitu sekitar jam 9-10 pagi. Sebelum berangkat, saya menyusui Janis sampai kenyang (saat itu Janis masih menolak MPASI).

Supermarket yang akan kami kunjungi, letaknya tidak jauh dari rumah, hanya berjarak sekitar 400 meter. Bukan berarti saya lantas tidak mempersiapkan apapun. Saya tetap membawa diaper bag dan nursing cover. Lalu, karena saya mengendarai mobil, maka saya harus mempersiapkan Janis di dalam carseat, berikut mainannya, seperti boneka kecil, rattle, dan buku, supaya anteng. Selama di perjalanan, saya juga menyetel CD lagu anak-anak yang biasa kami putar untuk Janis.

Saya hanya memakai baby carrier setiap kali bepergian, baik sendiri maupun dengan suami atau keluarga. Janis merasa lebih nyaman dalam gendongan saya. Dan dalam kondisi seperti ini, rasanya juga tidak mungkin kan membawa stroller sambil mendorong trolley belanja?

Begitu sampai di supermarket, saya langsung menuju ke rak-rak barang yang kami butuhkan, sesuai dengan daftar belanja. Jadi saya tidak perlu melihat-lihat sana sini, karena akan memakan waktu. Sebisa mungkin saya bergerak cepat. Setelah selesai berbelanja dan menaruh barang di dalam bagasi, saya menyusui Janis dahulu.

Tantangan mulai muncul ketika dalam perjalanan pulang sampai masuk ke dalam rumah. Biasanya karena Janis mulai bosan dan mengantuk. Strategi saya adalah segera menggendong Janis sambil menurunkan barang belanjaan yang sekiranya perlu dimasukkan segera ke dalam kulkas. Selebihnya bisa menyusul kemudian.

Rasanya bahagia sekali bisa melakukan ini semua. Ternyata saya bisa! Dan kegiatan belanja bulanan dengan Janis masih berlangsung sampai sekarang. Bedanya, sekarang saya mulai membawa cemilan untuk Janis dan ia sudah bisa duduk di atas trolley, hihihi.

Apakah ibu-ibu di luar sana juga ada yang pernah mencoba? 🙂

Tentang Belanja Bulanan dengan Janis

Tentang Kapan

“Kapan lulus?”

“Kapan pacarnya mau dikenalin?”

“Kapan mau nikah?”

“Kapan mau punya anak?”

“Kapan mau nambah anak?”

Pertanyaan terakhir yang patut saya garis bawahi.

.

.

Sebelumnya, mohon baca dulu riwayat saya (kami) ya.

Saya bertemu dengan suami saya pada akhir Desember 2008, kemudian menikah pada bulan Oktober 2012. Kemudian saya positif dinyatakan hamil pada pertengahan tahun 2015, sampai akhirnya melahirkan Janis di Maret 2016. Tentunya semua proses tersebut tidaklah mudah.

Sebulan setelah kami menikah, Ayah saya jatuh sakit, dan harus menjalani hemodialisa sampai sekarang. Satu yang saya tahu sejak dulu, cita-cita beliau yaitu ingin berumur panjang dan diberi sehat, agar bisa menimang cucu.

Rasa sedih kami semakin berlipat ganda, manakala sahabat-sahabat kami yang baru saja menikah, dengan segera diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati. Kami pun turut gembira dengan kabar itu, tapi di sisi lain kami pun iri.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan ‘kapan’ dari orang-orang di sekitar kami. Duh, rasanya ingin tinggal di dalam kamar saja terus-menerus.

Percaya atau tidak, hampir setiap malam, saya menangis. Mengeluhkan tentang ini semua di depan suami. “Punya anak itu bukan seperti perlombaan. Bukan siapa yang harus duluan. Anak itu anugrah. Kita belum diberi saja sama Allah, belum amanah. Sabar ya, nanti ada waktunya.” Itu yang selalu dibilang suami saya.

Rasa sedih ini seringkali berubah-ubah. Kadang kesal, kadang marah. Begitu terus. Entah bagaimana ceritanya saya pasrah. Ya, kami pasrah dengan semuanya. Kami jalani dengan ikhlas apa adanya. Rupanya, pada titik inilah doa kami terkabul.

Saya pikir cobaan berhenti di sini. Rupanya belum.

“Hamilnya kok kecil ya, perutnya nggak kelihatan.” 

Apa ya harus terlihat? Sedangkan saat itu saya baru masuk awal trimester kedua. Padahal setiap kali kontrol, berat janin saya selalu bertambah. Rasanya tak perlu juga saya jelaskan pada mereka.

“Namanya baru punya anak pertama pasti nanti bego. Nggak bisa ngasuh, mandiin, blablabla…”

(Betul, beliau pakai kata ‘bego’)

Kalau saat itu saya bisa koreksi kalimatnya, saya akan bilang, TIDAK ADA SEORANG PUN yang bodoh dari menjadi ibu (baru) dari seorang anak. Semuanya alamiah. Naluri seorang ibu. Sayangnya, saat kalimat tersebut terlontar, saya hanya diam sambil menahan air mata supaya tidak keluar.

Melahirkan itu sakit sekali lho! Besok deh ngerasain sendiri…”

Semua ibu-ibu yang sedang hamil, sudah pasti ingin disupport, diberi kalimat yang positif, bukan ditakut-takuti seperti ini. Tolong ya, yang seperti ini jangan ditiru…

Begitu Janis lahir, makin banyak tantangannya. ASI saya baru keluar setelah 4 hari pasca melahirkan. Lalu, sebulan pertama adalah masa paling sulit bagi kami, karena belum bisa mengatur pola tidur. Dalam waktu empat bulan pertama, saya hampir selalu telat makan (seringnya melewatkan sarapan), karena Janis sulit sekali ditinggal di atas tempat tidur sendirian. Bahkan ada kalanya tidak bisa lepas menyusu. Mungkin ini hal yang umum ya bagi orang tua baru.

Oh iya, saat itu saya dan suami masih tinggal terpisah (karena bekerja di luar negeri), sejak kehamilan saya memasuki trimester ketiga, sampai Janis berusia 5 bulan. Jadi kami bertemu paling cepat tiga minggu atau sebulan sekali.

Ketika Janis masuk tahap MPASI, tantangannya semakin besar. Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya. Semuanya tidaklah mudah.

Di sini lah mulai muncul pertanyaan ‘kapan punya anak lagi’.

Ketika Janis masuk usia satu tahun, ia masih belum bisa berjalan sendiri, masih dalam tahap titah. Janis belum juga tumbuh giginya satupun, walaupun sekarang saya sudah melihat ada empat calon gigi yang akan tumbuh. Berat badan Janis pun biasa saja, bahkan termasuk yang mungil, jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Tentu saja ada banyak komentar negatif. Tapi kami, sebagai orang tuanya, selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dari sejak Janis lahir, kami mengasuh Janis sendiri, tanpa bantuan orang lain. Itu sudah menjadi tekad dan kewajiban kami. Kami pun terus belajar untuk itu. Kami ingin menjadi yang terbaik  bagi Janis.

Apakah berat? Bohong kalau saya bilang tidak. Tapi ini yang kami inginkan sejak dulu. Doa kami telah dikabulkan. Apa iya lantas disia-siakan?

.

.

“Jadi, kapan punya anak lagi?” 

Tidak ada yang salah dengan memiliki atau berkeinginan memiliki anak lebih dari satu. Justru pertanyaan ‘kapan’ itulah yang terasa mengganggu. Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang ‘kapan punya anak lagi’ adalah hal sepele atau hanya sekadar guyonan. Tapi mohon maaf, bagi kami pertanyaan semacam ini kurang etis, terlepas dari ada keinginan untuk menambah anak atau tidak. Sebelum bertanya, mohon pikirkan perasaan pasangan suami-istri, bagaimana mereka melewati masa-masa mendapatkan buah hati, atau bagaimana mereka berjuang merawat dan membesarkan buah hatinya, yang saya rasa tidaklah mudah. Karena memiliki anak itu adalah salah satu komitmen dengan Tuhan, bukan hal sepele.

Dari seluruh pertanyaan tentang ‘kapan’ ini, pada akhirnya juga membawa saya kepada pertanyaan selanjutnya, “Kapan ya saya bisa sabar menghadapi pertanyaan ‘kapan’?”

Tentang Kapan

Tentang Doa

Nak, jadilah anak yang bersyukur dan selalu ingat untuk berbagi. Dengan begitu, Janis bisa lebih menghargai apa yang sudah Janis punya, walau tak seberapa. Bahagia sesederhana itu, Nak.

Nak, jadilah anak yang sehat ya. Karena dengan sehat, Janis bisa lakukan kegiatan apapun, dan kelak dapat membantu sesama, Nak.

Nak, jadilah pribadi yang berakhlak baik. Baik untuk diri sendiri, juga baik untuk orang lain. Akhlak mencakup segalanya, Nak, mulai dari sopan santun, jujur saling menyayangi, sampai memilih perbuatan mana yang baik dan mana yang tidak. Maka kelak Janis akan berada di jalan yang baik pula, Nak.

Nak, pintar itu perlu, tapi bukan yang utama. Maka kami berdoa semoga Janis menjadi anak yang berdaya. Karena tantangan akan selalu ada, Nak.

Semoga segala jalanmu selalu dimudahkan dan diridhoi oleh Allah SWT ya, Nak. Semoga Mama dan Yayah juga selalu dibimbing oleh Allah, agar menjadi orang tua yang baik untuk Janis. Aamiin ya robbal aalamiin.

Selamat ulang tahun, Janistra, kesayangan kami selamanya.

Tentang Doa