Ketika Janis Batuk Pilek

Semua berawal dari pertanyaan ‘Janis kalau batuk pilek dikasih apa’ atau ‘Janis dikasih obat apa sama dokter’.

Selama Janis hanya batuk pilek, tanpa ada gejala lain, kami tidak membawanya ke dokter. Cukup dengan perbanyak ASI, berjemur setiap pagi, makan-minum-istirahat yang cukup, dan ‘terapi uap’ di rumah, dengan mangkuk-mangkuk berisi air panas yang sudah ditetesi minyak kayu putih, minyak telon atau breathy drop lainnya, sambil terus diobservasi apakah ada tanda klinis lain yang muncul.

Saya dan suami bukan anti dengan obat-obatan ataupun antibiotik. Tetapi, sebisa mungkin kami menghindari pemakaian obat-obatan maupun antibiotik tersebut. Prinsip ini pun kami terapkan juga ke Janis.

Selain itu, kami juga menyediakan barang-barang esensial yang diperlukan Janis ketika dilanda batuk dan pilek.

  1. Minyak telon. Saya suka sekali dengan minyak telon racikan ini. Aromanya tidak terlalu menyengat, dan cukup hangat. Sejak Janis lahir, keluarga kami di Solo rutin mengirimkan ini. Saya sendiri kurang tahu di mana letak tokonya. Saya rutin memakaikan ini ke Janis, setiap saat ketika sakit, di bagian dada dan punggung.
  2. Twinkle Multi-Purpose Baby Balm. Seperti yang sudah saya bilang di tulisan sebelumnya, stick balm ini multi fungsi. Saya biasa mengoleskan di bagian leher dan dada Janis supaya ia bisa tidur lebih nyaman, walau dalam kondisi kurang sehat. Kadang-kadang saya oleskan juga di bagian hidungnya.
  3. Olbas for Children. Saya biasa menggunakan ini untuk diteteskan ke dalam mangkuk berisi air panas, sebagai terapi uap, ketika Janis dilanda batuk pilek. Fungsinya untuk melegakan pernafasan.
  4. Vicks Baby Balsam. Ini fungsinya sama seperti poin-poin di atas, melegakan pernafasan. Dari keempat barang di atas tadi, biasanya saya hanya pakai salah satunya saja.
  5. Sterimar Baby Nasal Spray. Efektif digunakan ketikan hidung tersumbat. But, my daughter totally failed to use this. Karena ia keburu takut dengan efek semprotnya. Duh.
  6. Boogie Wipes. Ini merupakan tisu basah yang mengandung saline, yang berfungsi untuk mengencerkan boogers (dried mucus) ketika terserang flu. Tisunya lembut, dan tidak mengandung alkohol, paraben dan phtalates. Sayangnya, Boogie Wipes ini kurang menyerap. Jadi kalau sedang runny nose, kita masih tetap butuh tisu kering. Overall, Boogie Wipes ini benar-benar efektif. Bahkan kami pun seringkali ikut pakai ketika flu.
  7. NoseFrida Nasal Aspirator. Janis pun baru-baru ini mau hidungnya dihisap pakai nasal aspirator. Sebelumnya selalu nangis, padahal baru lihat alatnya saja. Oh iya, NoseFrida ini ada filternya, jadi nggak perlu khawatir mucusnya akan tertelan ya. Filternya pun hanya sekali pakai, jadi higienis.

Jika sedang bepergian jarak dekat, saya cukup membawa Twinkle Multi-Purpose Baby Balm dan Boogie Wipes. Dan ketika sedang traveling, biasanya saya membawa ekstra minyak telon di dalam bagasi, dan tentunya termometer, juga nasal aspirator.

Nah, bagaimana dengan kalian?

Ketika Janis Batuk Pilek

Isi Tas Perlengkapan Janis

Entah kenapa saya baru kepikiran untuk menulis tentang ini. Kenapa bukan dari dulu ya sewaktu Janis masih bayi? Yang mana barang bawaannya super banyak. Hihihi. Berhubung Janis sudah memasuki usia toddler, jadi perlengkapan yang dibawa sudah makin berkurang. Yay!

Barang bawaan Janis selalu saya bagi ke dalam dua pouch: pouch diaper dan baju ganti; dan pouch alat makan.

Berikut isi pouch diaper:

    1. Baju ganti: dua kaus dan satu celana.
    2. Diaper dua buah.
    3. Handuk kecil.
    4. Changing pad.
    5. Nappy sacks untuk membungkus diaper yang kotor. Saya biasanya beli di Mothercare.
    6. Cotton ball.
    7. Sisir. Kami menggunakan Tangle Teezer untuk dipakai bersama.
    8. Hand sanitizerDi foto kami menggunakan BabyganicsAny sanitizer would be fine, yang penting adalah fungsinya ya.
    9. Cussons baby cologne.
    10. Twinkle Multi-Purpose Baby Balm. Aromanya kurang lebih seperti minyak telon, tapi ini dalam bentuk stik. Sesuai namanya, balm ini multi fungsi, selain untuk menghangatkan, bisa juga untuk mengurangi rash atau luka karena gigitan serangga. Favorit banget!
    11. Four Cow Farm Tea Tree Remedy. Ini pun favorit! Karena berguna ketika dulu Janis kena diaper rash. It helps soothe and protect the skin. Bahkan bisa juga untuk gigitan serangga, scrapes, cuts, and bruises. Any time there is inflamed or itchy skin, this balm is quickly applied!
    12. Spray anti nyamuk dari US BABY Bite Fighters.
    13. Kiehl’s Nurturing Baby Cream. Sebagian isinya sudah saya pindahkan ke tube kecil. Biasanya saya pakaikan di bagian siku dan lututnya Janis. Saya pun sering ikutan pakai, hihihi.
    14. Tisu kering.
    15. Tisu basah.

 

Kemudian, ini pouch peralatan makan:

  1. Set sendok dan garpu. Kami masih membiasakan Janis untuk makan dengan peralatannya sendiri. Walaupun pada akhirnya Janis seringkali memilih pakai cutlery di luar. Favorit saya adalah cutlery set dari Ikea SMASKA dan Skip Hop Zootensil Fork & Spoon. 
  2. Placemat. Janis senang sekali bereskplorasi dengan makanannya. Tak jarang makanan yang sudah jatuh ke meja, diambilnya lagi, lalu dimakan. Duh, kebayang nggak, kalau sedang makan di luar rumah bagaimana? Maka dari itu, kami sengaja memberikan placemat. Selama ini Janis pakai placemat dari Summer Infant TinyDiner dan Skip Hop Fold & Go Silicone Placemat.
  3. Bib. Walaupun Janis hampir selalu menolak pakai ini, hihihi. Mungkin risih ya. Favorit kami adalah Skip Hop Tuck Away Bib (sangat ringkas dan perfect for travel!) dan Make My Day.
  4. Tempat minum. Di foto, kami memakai Lollacup. Supaya Janis tidak bosan, kadang kami menggantinya dengan Wow Cup atau dengan Skip Hop Turn & Learn Training Cup. Ketiganya tidak mudah tumpah ketika dibawa bepergian.
  5. Snack. Saya selalu menyiapkan dua macam. Biasanya kombinasi roti isi selai, sereal, biskuit, atau stik keju. Anyway, tempat stik yang tertera di foto, sebenarnya adalah tempat minum yang dialihfungsikan, hihihi.
  6. Yogurt. Biasanya saya tempatkan di kemasan silikon dari Sili Squeeze with Eeeze, dengan free-flowing spout, yang memang ditujukan untuk anak usia 2 tahun ke atas.

Oh iya, karena sampai sekarang Janis masih minum ASI, maka saya masih selalu membawa nursing cover setiap kali bepergian, hihihi.

Baiklah, sekian sharing dari saya. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya ya. 😊

Isi Tas Perlengkapan Janis

Tentang Midit

Saya dan suami, yang biasa saya panggil ‘Midit’, berkenalan lewat salah satu media sosial, Plurk. Entah masih ada atau tidak ya. Kenalnya pun random, asal klik tombol ‘add to friends’. 

‘Obrolan’ pertama kami (saya) hanya sekedar komentar ‘jangan-lupa-beli-bakpia-keju’ waktu ia sedang tugas di luar kota. Itupun tanpa ada arti. Sampai pada akhirnya, kami benar-benar ngobrol via kolom komentar, hahaha. 

Dari situ, kami nggak sengaja ketemu. Bukan janjian. Itupun karena saya pasang status, “Sedang di daerah Senayan.” Dan muncul private message, “Yuk, ketemu! Kebetulan kantorku di daerah Senayan juga…” Nah lho! 

Kalau boleh saya tambahkan, saat itu saya sama sekali nggak terpikir untuk benar-benar bertemu teman dari dunia maya. Apalagi mencari pasangan hidup. Nope. Pikiran saya saat itu, duh, kira-kira ini orangnya punya niat baik atau buruk ya. Terus terang saja saat itu saya takut. *brb sungkem pak suami* 

Yang paling saya ingat, begitu bertemu, kami langsung menuju ke pameran Lego di fX Sudirman. Ini pun terjadi begitu saja. Dan yang paling memalukan, pulangnya saya langsung bilang lapar dan minta makan dulu, hahaha. Oh, tapi sebelum pulang, ia minta foto berdua dulu ketika turun lewat eskalator. Entah mana yang sebetulnya lebih ‘memalukan’ ya. 😒 

Berikutnya, kami banyak ngobrol lewat messenger. Kemudian, diajak nonton. Itupun sempat saya tolak, karena menurut apa yang saya lihat di blognya, dia sudah punya pacar. Tentu saja nggak etis kalau saya iya-kan. Kadang saya bersyukur juga punya naluri stalker. Sampai akhirnya ia bilang, “I’ve no longer had one,” barulah saya mau. 

Kami masih terus chatting, sampai akhirnya memutuskan untuk pacaran, dan tiga tahun kemudian menikah. 

Kalau dulu saat pacaran, suami saya keras kepala dan kurang sabar. Begitu menikah, malah justru sebaliknya. 

Apa yang dilihat orang-orang tentang kami, hanya yang baik-baik saja. Padahal di luar itu, kami sering berselisih, walau hanya hal sepele. 

Kehidupan setelah menikah ternyata bukan perkara mudah. Karena semua watak kami muncul satu-persatu di situ. Kadang saya nggak tahan, kadang suami pun nggak tahan. Mundur jelas bukan solusinya, karena kami sudah memilih satu sama lain. 

Ujian yang paling besar adalah kesabaran. Tapi rupanya, disitulah letak berkahnya. 

Orang yang paling bikin saya sebal, justru orang yang paling saya kasihi: suami saya. 

Kami makin sayang satu sama lain. Kami pun saling rindu, walaupun suami hanya pergi ke kantor. Mungkin kedengarannya berlebihan. Tetapi begitulah kenyataannya. 

Sampai sekarang sudah ada Janis pun, semua nggak berubah. Kecuali berat badan dan porsi makan. No, I’m not joking at all. Ini super serius. Hanya saja cara saya menjelaskannya terlalu lawak. 

Entah kenapa, waktu kami lebih banyak dihabiskan di meja makan dan segala tempat makan di luar. Semuanya terasa lebih bermakna ketika kami duduk bersama di meja makan, bukan di sofa, bukan di kamar tidur. Tak jarang diskusi berlangsung di meja makan.

Saya nggak pernah bilang kami berjodoh. Tapi harapan kami adalah semoga kami benar berjodoh. 

Saya nggak pernah bilang kami adalah pasangan yang baik. Tapi kami berharap menjadi yang baik. Baik untuk kami, untuk keluarga kami, dan terutama baik untuk Janis. 

Terima kasih atas segalanya ya, Midit. Semoga Midit jadi pemimpin yang semakin hari semakin baik untuk keluarga. Semoga berkah-Nya untuk Midit tidak akan pernah putus, baik di dunia maupun akhirat. Selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur.

Selamat ulang tahun, Midit, Yayahnya Janis, kesayangan kami.  ❤️

Tentang Midit

Tentang Janis dan London

Halo! Kami baru saja selesai dari perjalanan (dan penerbangan panjang, tentunya) ke London. Masih terasa juga jetlag-nya sampai sekarang. Oh, dan selama dua minggu di London kemarin, perjalanan kami nggak selamanya lancar. 

Malam ke-dua di sana, Janistra muntah, sampai dua kali. Esoknya, muntah lagi, bahkan makanan yang masuk pun keluar semua. Semua terjadi tanpa demam, disertai BAB cair (selama tiga hari berturut-turut). Nafsu makan pun menghilang. Begitu terus sampai seminggu. Selama itu Janis hanya mau ASI. 

Parahnya, kami kehabisan jaket untuk Janis, sudah kotor terkena muntah. Kami hanya bawa dua, yang satu tebal, yang satu tipis (hanya dipakai jika bepergian 2-3 jam). Akhirnya mau tak mau, suami harus keluar sendiri membeli beberapa jaket tambahan untuk Janis. Apalagi dengan kondisi Janis yang kurang baik, saya juga nggak mungkin membawa Janis ke luar. 

Kami pun sudah reservasi DSA ke salah RS di sana, jika terjadi keadaan darurat. 

Entah bagaimana, tapi saat itu kami sama sekali tidak panik. Bingung, lebih tepatnya. Kami yakin Janis bisa melewati ini semua. Kami tidak terlalu ambil pusing soal makan, nggak perlu dipaksa. Prinsip kami, kalau Janis lapar, pasti ia akan meminta, atau menunjuk makanan yang ia mau. 

Poin utama adalah menjaga Janis supaya tidak dehidrasi. Selain ASI, kami juga berikan Janis air putih yang banyak, dan es krim. Betul, kami sengaja beri es krim, walau di sana suhunya 10-12 derajat! Pertama, es krim juga salah satu pengganti cairan untuk Janis. Kedua, Janis semangat sekali setiap kali makan es krim. Apa nggak khawatir batuk pilek (selesma)? Tentu saja enggak. Batuk pilek bukan disebabkan karena makan es krim, melainkan virus. 😊

Setelah hari ke-6, ia baru mau makan. Itupun hanya donat. Dari situ, kami baru terpikir, “Kenapa kita nggak ke resto Melayu ya? Pasti Janis mau makan kari ayam!” Benar saja, Janis makan nasi kari ayam dengan lahapnya. Super lahap. All hail chicken curry! 

Hari-hari berikutnya, kami sempatkan untuk makan lagi di resto yang sama. Sampai-sampai kami harus menjelaskan ke pegawai restonya mengapa tiap hari kami datang ke sini. Hahaha. Semuanya demi Janis, supaya ia semangat makan. Sesekali, kami selingi dengan pasta, salah satu favoritnya Janis juga. Alhamdulillah, dari situ semuanya berjalan lancar sampai waktunya pulang. 

Lalu, apakah itinerary kami berantakan? Sama sekali tidak. Jauh sebelum berangkat, kami sudah merencanakan semuanya, membuatnya sesuai dengan kebutuhan dan ‘jadwalnya’ Janis. Kami sangat senang ketika Janis bisa tertawa lari-lari di taman, bergidik ketika kena tiupan angin kencang, sampai tidak kuat melangkah, hihi. Atau ketika Janis takjub melihat monyet, unta dan ayam di ZSL London Zoo. 

Bagian yang tidak terprediksi adalah ketika Janis sakit. Itu saja. Tidak ada satupun yang menginginkan sakit, bukan? 

Bagian terbaik dari semuanya adalah pengalaman. Both of us will always remember that we always light each other’s life. 😊

Tentang Janis dan London

Tahun Kedua

Halo, Nak, terima kasih untuk segala surprise-nya di tahun kedua ini. Bagi kami, semuanya sangatlah spesial. 

Terima kasih, Nak, sudah mau makan dengan lahap dan mau belajar makan sendiri dengan sendok garpu. Tak perlu pedulikan makanan yang jatuh, Nak, biar saja. Tak perlu khawatir karpet atau lantainya kotor. Kami lebih menghargai usaha nak Janis untuk berusaha makan sendiri. Semangat, Nak! 

Terima kasih, Nak, sudah mencoba untuk minum air putih, walau hanya beberapa teguk. Mungkin Janis nggak akan ingat, ketika dulu ditawarkan air putih, langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Bagian terbaiknya sekarang adalah tak ada penolakan lagi. Sungguh, kami salut, Nak. 

Terima kasih, Nak, untuk attention span yang mulai panjang. Betah duduk sambil mendengarkan kami membacakan satu-dua buku. Bahkan selalu minta dibacakan buku. Bahagianya… 

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih sudah baik dan sabar dengan kami, walau seringkali Mama marahi, tanpa Janis mengerti alasannya. 

Terima kasih juga, Nak, karena selalu memilih untuk berjalan kaki, dibandingkan digendong atau duduk anteng di stroller, walaupun rutenya jauh bagi Janis. Terima kasih ya, sudah selalu sehat, aktif dan lincah. 

Terima kasih pula, Nak, sudah mengajarkan kami bahwa setiap anak itu berbeda. Mungkin Janis belum tertarik dengan warna atau angka. Mungkin Janis masih ingin mengenal berbagai macam binatang, atau hanya selalu ingin bergoyang ketika mendengarkan musik. Mungkin Janis belum berani melakukan apa-apa sendiri. Tak apa, Nak. Toh dalam hidup, kita semua belajar kan? Menjadi ‘bisa’ itu karena ‘biasa’, Nak, ada prosesnya. 

Nak, sesungguhnya kami bosan mendengar komentar dari sana-sini tentang pola asuh kami sebagai orang tua. Bahkan ketika kami tidak sedang bercerita atau bertanya. Atau mengenai proses tumbuh kembangmu, Nak. Atau bagaimana seharusnya kami menyikapi nak Janis yang takut dan menangis ketika bertemu orang asing. Ah… Tak apa, Nak. Kami menjadi semakin bersemangat untuk selalu berusaha. 

Kami belajar untuk tidak menuntut, Nak. Karena kami pun juga banyak kekurangannya. Seiring dengan Janis yang makin tumbuh besar, kami semakin berusaha untuk berbesar hati dan legawa. 

Terima kasih ya, Nak, penyejuk hati kami. Semoga nak Janis selalu jadi anak yang bersyukur, bahagia, kelak berakhlak baik dan menjadi anak yang berdaya, juga selalu dalam lindungan Allah SWT. 

Selalu bantu kami jadi orang tua yang baik, Nak. Semoga kita semua selalu melangkah ke arah yang lebih baik ya, Nak. Insyaallah. 

Selamat ulang tahun kedua, anak kami tercinta, Janistra. 

Tahun Kedua

Melibatkan Janis di Rumah

Menyambung dari tulisan saya sebelumnya, ternyata ada solusi bagi kami dalam menghadapi Janis. 

Seperti yang pernah saya bilang, karena di sini kami tidak punya ART, maka segala kegiatan rumah tangga, kami sendiri yang mengerjakan. Dan ketika Janis tidak sabar ingin cepat main dengan kami, dan begitu pula kami yang tidak sabar ingin membereskan rumah, akhirnya kami sampai pada kesepakatan untuk melibatkan Janis di setiap kegiatan pekerjaan rumah. 

Perlu digaris bawahi, ini bukan eksploitasi anak ya. Kami ingin Janis mengerti bahwa ada rutinitas lain yang harus kami lakukan, selain bermain dengan Janis dan mengasuhnya. 

Ide ini berawal ketika kami melihat Janis mau membantu kami untuk merapikan buku-bukunya yang sudah selesai dibaca. Hanya dengan kalimat, “Hayooo, bukunya kalau sudah selesai dibaca harus dirapikan lagi ke tempatnya,” maka ia segera beranjak membantu merapikan. Sampai sekarang, Janis mau belajar mengembalikan merapikan buku-bukunya sendiri, walau ala kadarnya, yang penting tepat ditaruh di tempatnya semula. 

Kemudian, menaruh pakaian kotor di keranjang cucian. Sebetulnya ini salah satu hal yang Janis lihat setiap harinya. Ketika akan mandi, pakaiannya yang sudah dilepas, terlebih dahulu kami taruh di keranjang. Rupanya, ia mencontoh. Sudah hampir dua minggu, ia menaruh pakaian kotornya sendiri, tanpa diminta. Setelahnya, ia tepuk tangan, sambil memanggil kami. Mungkin saja Janis merasa bangga karena ia bisa melakukan sendiri ya, hihi. Yah, karena ini terbilang baru untuk Janis, tak jarang pula ia memasukkan pakaian bersih ke dalam keranjang cucian… 

Ketika Janis sudah selesai makan, saya akan minta bantuannya, untuk menaruh alat makannya sendiri ke dalam sinky. Bagaimana bisa? Apa Janis sudah setinggi itu? Hihihi, belum kok. Tentunya dengan bantuan kami. Saya atau suami akan menuntunnya ke dapur, sambil ia membawa alat makannya. Ketika sudah di depan sinky, maka alat makannya tersebut diberikan ke kami, untuk ditaruh di dalamnya. “Terima kasih, mbak Janis…” Senyumnya kembali merekah, tentunya sambil tepuk tangan. 

Janis juga berbaik hati membawakan pengki untuk saya, ketika sedang menyapu. Atau membantu membawakan pakaian yang sudah kering ke dalam kamar, untuk dilipat. Tentunya Janis hanya membawa pakaiannya sendiri lho ya. Kalaupun ia masih ingin membantu, biasanya saya hanya beri salah satu kaus kami saja untuk dibawa. 

Janis juga mulai membuang tisu yang sudah ia pakai ke dalam tempat sampah. Walaupun masih suka terbalik dibuang ke dalam keranjang cucian, hihi. 

Rupanya cara-cara seperti ini membantu kami semua, walaupun tidak selalu berhasil juga. Paling tidak, Janis merasa diperhatikan. Karena memang yang diinginkan ya hanya diajak main, main dan main. Sesekali Janis merengek kalau memang sudah bosan, capek atau mengantuk. 

Semoga selanjutnya kami bisa lebih baik lagi dan tentunya lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik Janis. 

Apakah kalian juga ada yang seperti kami? Atau ada tips yang lain? Feel free to share 🙂

Melibatkan Janis di Rumah

Belajar dari Janis

Pernah tidak, marah atau kesal dengan anak, ketika kita sedang sibuk berkutat di dapur atau sedang beberes rumah? 

Saya beberapa kali begitu dengan Janis. Lebih tepatnya, sering. 

Saya kesal ketika rumah sedang dibersihkan, lalu semua mainannya ia taruh di semua sudut rumah. Atau ketika sedang menyapu, debu kotornya ia injak-injak, sehingga jadi menyebar. 

Saya kesal ketika sedang mencuci piring, ia merengek dan tak sabar minta digendong, padahal tangan saya masih penuh busa sabun. 

Saya kesal ketika saya pergi mandi, ia menangis kecarian, padahal sebelumnya saya sudah pamit, dan pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka. Bahkan ketika saya ingin rebahan sebentar saja, ia pun mencari cara untuk mengajak saya beranjak.

Bagi saya, tinggal diam di rumah jauh lebih melelahkan, dibandingkan harus pergi main ke taman atau perpustakaan. Karena ada saja yang harus dikerjakan di rumah, selain mengasuh Janis tentunya. Di usianya yang 22 bulan ini, energinya luar biasa. Bicara non-stop (dalam bahasa yang ia pahami sendiri), jalan sana-sini, naik-turun sofa, bahkan lari-lari di dalam rumah. 

Bahkan ada kalanya saya merasa merdeka sekali ketika Janis tidur dan istirahat. Begitu saja berulang kali. Lalu apa yang saya lakukan? Duduk di sofa, sambil minum teh, kemudian mengingat hectic sebelumnya dan menghela nafas panjang, sampai kadang senyum-senyum sendiri. Atau kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang belum selesai. 

Suatu ketika, saya pernah kelepasan membentak Janis. Wajahnya pias seketika, ia berlari keluar kamar, mengintip dari balik pintu, dan disitu saya lihat ia berusaha menahan tangis. Saya tidak berusaha mengejarnya ataupun memanggilnya, karena masih dalam keadaan emosi. Saya diamkan Janis sekitar 10-15 menit. Tahu apa yang dilakukannya? Ia kembali mendekati saya, dan memanggil, “Mama, Mama…” berulang kali. Diciumnya pipi saya berulang kali. Karena masih tidak ada respon dari saya, barulah ia menangis sejadi-jadinya. 

Ketika saya memeluknya, ia balik memeluk saya sekencang mungkin. Saya bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali tenang. Senyumnya juga mulai merekah. Ia kembali ceriwis lagi, sembari menyodorkan saya sebuah buku untuk dibaca bersama. Berikutnya, gantian saya yang menangis… Ya Tuhan, I did stupid things! 

Mengapa malah Janis yang mengajarkan saya untuk belajar tulus, bukan sebaliknya? Saya pun merasa malu dan kecewa, karena merasa kurang tulus terhadap Janis. 

Saya ingat, saya pernah beberapa kali mengeluh capek ke Janis. Hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Padahal ia hanya ingin ditemani dan diajak berinteraksi.

Saya ingat, betapa sabarnya Janis, ketika harus menunggu saya menyelesaikan cucian panci dan alat masak lainnya, yang sudah menumpuk sejak pagi. Atau ketika sedang memasak untuk menu makan siangnya. Ia tetap sabar menunggu saya, dan tepat berada di samping saya sambil membawa salah satu bukunya. Ketika saya sedang membersihkan karpet, ia juga tetap sabar menunggu saya sampai selesai.

Janis yang mengajarkan saya untuk belajar sabar, bukan malah sebaliknya…

Saya pun ingat dengan kata-kata suami beberapa hari lalu. Janis masih terlalu kecil untuk memahami apa yang kita katakan. “Apalagi kalau Mama marahi… Seberapa besar Mama marah, ia belum ngerti, bahkan mungkin nggak paham juga kenapa Mama marah. Yang Janis tangkap hanya intonasinya Mama yang keras.” 

“Kadang aku juga suka kesal dengan Janis… Tapi aku berusaha untuk nggak membentak atau marah. Kalau sekali-dua kali nggak bisa dibilangi, barulah aku ambil Janis dari posisi dia berada. Gendong saja, Ma…” 

“Nanti kalau sudah makin besar, pelan-pelan bisa dikasih tahu, Ma. Sabar ya…”

Menyesal? Ya, tentu saja. Kadang kalau tengah malam terbangun, saya suka menangisi Janis. Bisa nggak ya, saya jadi orang tua yang baik buat Janis? But there’s no such thing as perfect parent. Semua belajar, termasuk saya. Kadang memang harus jatuh dulu, untuk menjadi yang lebih baik.

Komentar-komentar seperti, “Wah, hebat! Ibu teladan ini…” atau “Kamu telaten banget, Lintang”, malah membuat saya malu dan merasa bersalah.

Saya sangatlah jauh dari itu. Mungkin semuanya karena kuasa Yang Di Atas sehingga segala kekurangan saya tidak diperlihatkan ke orang lain ya. Lalu bukankah dengan adanya tulisan ini, jadi kelihatan kurangnya? Betul, tapi saya nggak malu untuk mengakuinya. Inilah saya apa adanya.

Segala buku parenting yang saya baca sangat bagus. Tapi pada kenyataannya sulit sekali untuk dilakukan. Ada beberapa poin yang bisa diterapkan, ada juga yang berseberangan. Semuanya kembali ke kondisi anak dan diri kita sendiri sebagai orang tua. Seperti yang suami saya bilang, “Nggak perlu lihat orang lain, Ma, just be yourself… Kita yang tahu kondisi anak kita. Semua ada porsinya masing-masing.”

Semoga segala tekad dan usaha saya menjadi yang terbaik untuk Janis terwujud ya.

Belajar dari Janis